Selasa, 17 Desember 2013

MEMUDAHKAN BELAJAR DALAM KEGELAPAN (Mengupas Potensi E-Learning Untuk Pendidikan Tunanetra)



Oleh: Janu Arlinwibowo

Jumlah handphone di Indonesia mencapai 250,100,000 buah, dengan 237,556,363 penduduk maka peluang tiap penduduk menggunakan handphone mencapai 105.28%.

Fakta mengejutkan diatas dapat memberikan gambaran pada kita bahwa masyarakat Indonesia merupakan konsumen teknologi informasi. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa teknologi yang memiliki perkembangan sangat cepat ini telah menjadi kebutuhan primer di seluruh belahan dunia. Beranjak dari kepemilikan handphone, kita dapat menduga bahwa internet pun sudah menjadi barang biasa di masyarakat.
Fenomena terus berkembangnya teknologi informasi tidak disia-siakan oleh dunia pendidikan. Saat ini mulai banyak dikembangkan sistem pembelajaran yang berbasis pada internet, atau lebih sering kita dengar dengan nama E-Learning. E-Learning merupakan usaha untuk membuat sebuah transformasi proses belajar mengajar di sekolah dalam bentuk digital yang didukung oleh teknologi internet.
Pengembangan model pembelajaran E-Learning memberikan dampak positif pada dunia pendidikan dimana proses pembelajaran dapat dikemas lebih menarik, bermakna, dan tentunya dapat diakses sewaktu-waktu. Model pembelajaran ini seolah merevolusi sistem pembelajaran konvensional yang mengharuskan seorang siswa belajar dalam suatu ruang dan waktu yang khusus. Dengan pengembangan model ini siswa dapat belajar dengan lebih leluasa tanpa terkekang oleh ruang dan waktu.

Teknologi Informasi pun Merambah Tunanetra
Perkembangan teknologi informasi ternyata berlaku secara keseluruhan, termasuk untuk konsumen tunanetra. Industri memberikan fasilitas khusus pada tunanetra sehingga dapat mengoperasikan piranti elektronik dengan baik layaknya orang awam. Inovasi yang dikembangkan untuk mendukung aksesibilitas tunanetra dalam menggunakan piranti elektronik berupa handphone dan komputer adalah pembaca layar atau dikenal dengan nama software screen reader. Prinsip kerja software ini adalah membaca tulisan dan obyek yang ada dilayar monitor lalu ditransfer ke bentuk suara menjadi semacam “mata telinga”. Dengan demikian, tunanetra bisa mendengar semua yang ada dilayar, baik berupa tulisan, icon maupun simbol-simbol lainnya. Dengan berbekal komputer atau handphone yang telah dilengkapi screen reader maka setiap tunanetra dapat mengakses informasi yang ada diinternet layaknya orang awas.

E-Learning: Leluasa Belajar Dalam Kegelapan
Melalui temuan di atas maka tidak ada alasan untuk tidak menerapkan sistem E-Learning bagi siswa tunanetra. Kekhawatiran tunanetra tidak dapat mengoperasikan piranti elektronik telah terjawab dengan software screen reader. Bahkan sudah barang biasa melihat tunanetra usia sekolah membawa handphone layaknya siswa sekolah umum, mereka pun smsan, bahkan aktif di jejaring sosial seperti twiter dan facebook. Untuk siswa tunanetra SMA atau Mahasiswa, banyak dari mereka yang berangkat sekolah membawa laptop, sama seperti siswa umum, membawa laptop untuk mengerjakan tugas ataupun sekedar memanfaatkan fasilitas wifi di lingkungan tempat belajar.
 E-Learning memiliki potensi besar untuk membantu siswa tunanetra belajar. Metode ini dapat meminimalkan ketergantungan siswa dan guru terhadap ruang dan waktu khusus. dalam proses pembelajaran. Keterbatasan tunanetra dalam bergerak tentu memberikan kendala tersendiri untuk move, seperti berganti ruang kelas, menemui dosen mengumpulkan tugas, ataupun konsultasi. Dengan demikian maka E-Learning dapat memberikan kenyamanan belajar yang lebih pada tunanetra. Dengan gerak yang minimal tunanetra tetap dapat belajar dengan maksimal.
E-learning merupakan sebuah proses pembelajaran yang dilakukan melalui network (jaringan). Ini berarti dengan e-learning memungkinkan tersampaikannya bahan ajar kepada peserta didik menggunakan media teknologi informasi dan komunikasi berupa komputer dan jaringan internet atau intranet. Dengan e-learning, belajar bisa dilakukan kapan saja, di mana saja, melalui jalur mana saja dan dengan kecepatan akses apapun. Proses pembelajaran berlangsung efesien dan efektif.
Keuntungan lain untuk tunanetra adalah tunanetra dapat mengulang belajar dengan membuka sumber belajar elektronik dengan leluasa. Tidak perlu susah payah mencatat, tidak perlu susah mencari buku di almari, bahkan dapat mendengar kembali penjelasan guru atau dosen melalui rekaman. Dengan demikian maka dampak dari “kegelapan” dapat diminimalkan dan tunanetra dapat belajar dengan lebih leluasa.
Dengan E-learning maka siswa tunanetra juga akan diuntungkan dengan mudahnya mengarsipkan materi pelajaran. Materi yang semula sering dikemas dalam huruf Braille yang notabene memiliki dimensi yang besar dan berat dalam berubah menjadi suatu folder dalam komputer. Selain itu kemudahan juga ada ketika tunanetra akan mencari materi pelajaran, jika semua harus mencari di berbagai tempat penyimpanan, dengan E-learning maka tunanetra dapat mencari file lebih mudah. Jika lupa pun tunanetra akan dibantu oleh mesin pencari yang ada di operating system untuk mencari file yang diinginkan.
Berbasi E-learning, guru atau dosen juga dapat memberikan stimulus pada tunanetra untuk mencari berbagai materi. Atas bantuan screen reader tunanetra dapat membaca banyak bacaan yang akan sangat sulit mereka temukan di perpustakaan. Dengan demikian maka tunanetra dapat terangsang untuk mencari wawasan seluas-luasnya sehingga pengalaman dan perbendaharaan ilmunya pun semakin baik.

Killing Distance, Making a New World
Dengan basis E-learning jarak antara pengajar dan siswa dimungkinkan semakin menipis karena dalam kondisi ini jarak menjadi suatu hal yang tidak diperhitungkan. Interaksi antara guru dan siswa dimungkinkan akan semakin intensif. Guru dapat memberikan himbauan siswa kapanpun ataupun siswa dapat menanyakan solusi permasalahan pada guru kapan pun.
Banyak sekali masyarakat yang memiliki akun dalam jejaring sosial, Untuk twitter Indonesia berada di posisi kelima dengan jumlah akun 19,5 juta. Sedangkan untuk pengguna facebook di Indonesia per bulan Januari 2013 telah menembus angka 50,583 juta. Pemilik akum dari jejaring sosial tersebut beberapa diantaranya adalah tunanetra. Keberadaan jejaring sosial tersebut semakin memudahkan antar individu untuk saling berkomunikasi, termasuk guru dan murid. Saat ini sudah banyak guru dan siswa yang saling berkomunikasi melalui jejaring sosial, sekedah bersosialisasi ataupun memanfaatkannya untuk kegiatan belajar. Sangat menarik jika guru SLB atau sekolah inklusi menerapkan pembelajaran berbasis E-learning dengan melibatkan jejaring sosial. Tentunya siswa tunanetra akan semakin mudah berkomunikasi dengan guru dengan lebih leluasa.

Teknologi informasi adalah cahaya dalam kegelaman mereka,
Mari dukung mereka agar dapa berkreasi dalam kegelapannya,
Salam education for all,

4 komentar:

  1. Berbicara mengenai IT (teknologi informasi), memang hampir semua masyarakt luas tidak dapat mengelak pangaruh dari IT. Sebab IT sekarang ini megalami pergeseran dari kebutuhan sekuder menjadi kebutuhan primer. IT sudah menjadi komponen yang penting dalam hidup manusia. Bagi tunanetra-pun sekarang sudah mulai terpengaruh dengan IT tersebut. Khususnya menganai E-Learning. Terkait dengan postingan ini, sangat baik sekali idea tau gagasa yang paparkan. Pertanyaannya selanjutnya, bagaimana menciptakan cara atau metode supaya tunanetra juga dapat menggunakan E-Learning ini sebagai media pembelajaran seperti halnya anak-anak normal yang lainnya.

    BalasHapus
  2. 1. They arent exceptional children, but children with special need...so jangan bilang cacat mas rod...mereka hanya memiliki kebutuhan khusus,
    2. Bisa mas...metodenya sama kaya siswa awas (siswa non tunanetra). Mereka dapat juga membaca tulisan blog ini, mereka juga bisa membaca tulisan dari ms.word dan pdf. karena mereka memiliki software bernama screen reader. Jika kita membacanya (secara visual), mereka membacanya dengan output audio...

    BalasHapus
  3. Wahh..gagasannya sangat bagus mas, penyetaraan pendidikan memang harus direalisasikan tanpa memandang bulu, mulai dari fasilitas sarana dan prasarana maupun guru yang professional. Salah satunya adalah memberikan kepada mereka kesempatan untuk mengenal E-Learning. Sukses mas..

    BalasHapus
  4. bagus...
    apalagi kalau di kembangkan di daerah saya..
    luar biasa hasilnya,,,,

    BalasHapus